Showing posts with label kisah dan teladan. Show all posts
Showing posts with label kisah dan teladan. Show all posts

This is a true story.
Please forward when you finish reading!

A little background:

Neiman-Marcus, if you don't know already, is a very expensive boutique shop (they sell a typical $8.00 T-shirt for $50.00)

My daughter and I had just finished lunch at a Neiman-Marcus Cafe in Dallas , USA . Because both of us are such biscuit lovers, we decided to try the 'Neiman-Marcus cookie'. It was so excellent that I asked if they would give me the recipe. The waitress said with a small frown, 'I'm
afraid not, but you can buy the recipe.'

I asked how much, and she responded; 'Only two fifty - it's a great deal'

I agreed to that, and told her to add it to my bill.

Thirty days later, I got my Visa statement, and the Neiman-Marcus charge was $285. I looked at it again, and I remembered I had only spent $9.95 for two sandwiches and about $20 for a scarf. At the bottom of the statement, it said, 'Cookie Recipe - $250.00'. That was outrageous!

I called Neiman's Accounting Department and told them the waitress had said it was 'two fifty', which clearly does not mean 'two hundred and fifty dollars' by any reasonable interpretation of the phrase.
Neiman-Marcus refused to budge. They would not refund my money because according to them; 'What the waitress told you is not our problem. You have already seen the recipe. We absolutely will not refund your money.

I explained to the Accounting Department lady the criminal statutes which govern fraud in the state of Texas .. I threatened to report them to the Better Business Bureau and The Texas Attorney General's office. I was basically told: Do what you want. Don't bother thinking of how you can get even, and don't bother trying to get any of your money back'

I said, OK, you've got my $250, and now I'm going to have $250 worth of fun. I told her that I was going to see to it that every cookie lover in the world with an e-mail account gets a $250 cookie recipe from Neiman-Marcus for free. She replied, 'I wish you wouldn't do that.' I
said, 'Well, perhaps you should have thought of that before you RIPPED ME OFF!' and slammed down the phone.

So here it is! Please pass it on to everyone you can possibly think of.
I paid $250 for this, and I don't want Neiman-Marcus to EVER make another penny from this recipe!


NEIMAN-MARCUS COOKIES (Recipe may be halved as this makes heaps)

2 (500 ml) cups butter
680 g chocolate chips
4 (1000 ml) cups flour
2 (500 ml) cups brown sugar
2 tsp.. (10 ml) Bicarbonate of soda
1 tsp. (5 ml) salt
2 (500 ml) cups sugar
500 g Grated Cadbury chocolate
5 (1250 ml) cups blended oatmeal
4 eggs
2 tsp. (10 ml) baking powder
2 tsp. (10 ml) vanilla
3 cups (375 ml) chopped nuts (optional)

Measure oatmeal, and blend in a blender to a fine powder. Cream the butter and both sugars. Add eggs and vanilla, mix together with flour, oatmeal, salt, baking powder, and bicarbonate of soda. Add chocolate chips, grated Chocolate and nuts. Roll into balls, and place two inches
apart on a cookie sheet. Bake for 10 minutes at 375 degrees (180 C).

The above quantities make 112 cookies. Enjoy!

This is not a joke-it's a true story.

Meski bukan baru, tetapi baju yang Salleh pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu juga yang dikenakan isteri dan anak-anak Salleh.

Tangis haru dan tawa gembira mewarnai suasana lebaran hari ini. Pulang dari sholat AidilFitri, anak-anak Salleh mendapatkan ayah dan ibu mereka, berpelukan dan mengucup lembut tangan dan pipi mereka. Salleh dan isteri membalasnya dengan kucupan terkasih. Sebelum berlalu, tidak lupa mereka meminta 'habuan' wang lebaran. Setelah itu mereka berlari-larian mendapatkan nenek mereka untuk meminta cium.


Ada airmata yang menitis ketika Salleh menatap wajah tua di hadapannya. Terlalu lemah hati Salleh untuk menahan rasa yang begitu dalam terhadap ibu, sesosok anggun yang selalu ingin Salleh cium kakinya. Salleh memeluk kaki letihnya, menikmati wangi cintanya seraya berharap kelak mendapatkan syurganya dari sana. Lalu, mengalirlah doa dan kalimah penuh kasihnya untuk anak yang sering tak tahu membalas budi ini. Kemudian satu persatu adik beradik Salleh tersungkur di kakinya.


Aneka kuih khas hari raya yang sejak subuh telah tersedia di meja ruang tamu nampaknya tak sabar menanti untuk disentuh. Salleh dan isteri, tentu saja takkan melepaskan hidangan khas lebaran di rumah cinta itu, Nasi Beriani Hujan Panas, Lemang dan Rendang. Tidak hanya anak-anak ibu yang menikmati juadah masakan ibu, tetapi juga sahabat-sahabat Salleh yang sengaja datang untuk dua perkara; silaturrahim dan juadah masakan ibu Salleh!


Begitu indah dan harunya hari raya, hingga Salleh hampir terlupa akan sebuah janji jika sahaja tak diingatkan seorang sahabat. "Jadi kah kita kesana?"
Salleh bersama keluarga dan empat orang sahabatnya memandu kereta menuju tempat yang sudah direncanakan untuk dikunjungi. Untuk sementara, Salleh tangguhkan rencana kunjungan silaturrahim ke beberapa rumah teman lama. Lebih kurang lima belas minit, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang dituju.


Sebaris senyuman ikhlas anak-anak dari halaman rumah menyambut salam tetamu yang baru tiba. Salah seorang dari mereka mempersilakan Salleh, keluarga dan teman-teman masuk.


Rumah kecil itu, dinding-dindingnya terlihat terkelupas di beberapa tempat. Tak ada satu pun anak yang mengenakan baju baru, sepatu baru, juga tak ada yang terlihat sedang menghitung-hitung wang hasil pemberian saudara-saudara mereka. Tak ada kuih khas hari raya. Tak tersedia ketupat lebaran, apalagi rendang daging atau lemang. Air yang tersedia untuk mereka pun hanya air tak berwarna, jelas, kerana mereka tak ada sirap.


Di rumah tumpangan anak yatim itu, hanya ada mata-mata kosong menanti huluran tangan para dermawan. Mereka tak pernah lagi menikmati saat-saat indah di hari raya dengan aneka hidangan, pakaian bagus, ciuman dan pelukan hangat dari orang-orang terkasih. Tak lagi mereka dapatkan tangan dan pipi untuk dikucup setelah pulang dari sholat AidilFitri, juga kaki-kaki mulia tempat mereka bersimpuh, bahkan sebahagian besar mereka pun tak pernah tahu wajah orang yang pernah melahirkannya.


Sebahagian mereka mengaku terus bertanya, kenapa Allah membiarkan mereka hidup tanpa orang tua? "Apakah Allah tak ingin melihat saya bermanja dengan ibu?" tanya Adi, salah seorang penghuni rumah tumpangan yang berusia delapan tahun. Tidak kurang juga dari mereka terus berharap Allah mengembalikan orang tua mereka agar mereka dapat merasakan menjadi anak, yang mendapatkan kasih sayang orang tua, agar ada tangan yang dikucup saat berangkat dan pulang sekolah, agar ada satu kesempatan bagi mereka untuk menikmati manisnya berbakti.


Mereka seolah-olah tak peduli dengan aneka makanan dan hadiah yang Salleh bawa. Bukan itu yang mereka rindui. Mereka mengaku sudah biasa hidup tanpa berlimpah makanan. Bersekolah tanpa wang jajan pun sudah mereka rasakan. Ada yang lebih mereka rindui di sepanjang hari, lebih-lebih di hari raya ini. Akhbar, anak kecil berusia enam tahun menghampiri dan berbisik di telinga anak perempuan Salleh, " Kak, bagaimana rasanya tidur ditemani mama?"


Gagal Salleh menahan airmatanya dari berguguran ..

Dapat melalui email, kredit kepada penulis

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg besar melambai-lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang ice-krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicapi, sementara tangan kirinya mencengkam Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas tembok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu meniru gaya tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sambil tersenyum, sambil memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, bererti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya mengira dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani menoleh kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan bersebelahan kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengusap kepala anak satu-satunya.. "Memangnya kenapa ndhuk( anak perempuan) ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya... "Hmmm, ayah kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani bersinar keranana bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ...... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang..... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata....

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menitis, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan pameran dipukuli masa di tv kemarin ia dah tak tahan?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya mengangkat, setinggi bahunya naik turun tak teratur...... air matanya semakin membanjiri pipi dan janggutnya…

"Allahumma as aluka khusnul khootimah".. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu.. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya....

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."

Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. .

"Sebarkanlah walau hanya 1 ayat"

Dari inbox admin,kredit kepada penulisnya

Sepasang suami dan isteri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan gelagat sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata yang dibeli oleh petani hari adalah perangkap tikus. Sang tikus naik panik bukan kepalang.

Ia bergegas lari ke sarang dan bertempik, "Ada perangkap tikus di rumah... di rumah sekarang ada perangkap tikus...."

Ia pun mengadu kepada ayam dan berteriak, "Ada perangkat tikus!" Sang Ayam berkata, " Tuan Tikus! Aku turut bersedih tapi ia tak ada kena-mengena dengan aku."

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak seperti tadi. Sang Kambing pun jawab selamba, "Aku pun turut bersimpati... tapi tidak ada yang boleh aku buat. Lagi pun tak tak ada kena-mengena dengan aku. "

Tikus lalu menemui Lumbu. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali. Takkanlah sebesar aku ni boleh masuk perangkap tikus. "

Dengan rasa kecewa ia pun berlari ke hutan menemui Ular. Sang ular berkata "Elehh
engkau ni... Perangkap Tikus yang sekecil tak kan la nak membahayakan aku."

Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah kerana mengetahui ia akan menghadapi bahaya seorang diri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara berdetak perangkap tikusnya berbunyi menandakan umpan dah mengena. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa yang jadi mangsa. Ekor ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang isteri pemilik rumah.

Walaupun si Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, isterinya tidak sempat diselamatkan. Si suami pun membawa isterinya ke rumah sakit. Beberapa hari kemudian isterinya sudah boleh pulang namun masih demam.

Isterinya lalu minta dibuatkan sup cakar ayam oleh suaminya kerana percaya sup cakar ayam boleh mengurangkan demam. Tanpa berfikir panjang si Suami pun dengan segera menyembelih ayamnya untuk dapat cakar buat sup.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih juga isterinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Banyak sungguh orang datang melawat jenazahnya. Kerana rasa sayang suami pada isterinya, tak sampai hati pula dia melihat orang ramai tak dijamu apa-apa.
Tanpa berfikir panjang dia pun menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang berziarah.

Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

MORAL: SUATU HARI... KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESUSAHAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA... FIKIRKANLAH SEKALI LAGI.

Sebagai renungan bersama…

KALAU KITA FIKIR KITA SUSAH, MASIH ADA LAGI ADA ORG YG LEBIH SUSAH DARIPADA KITA..

CUMA KITA SEBAGAI ISLAM WAJIB SEDAR, JANGAN LAH SAMPAI KESUSAHAN KITA, MENGHAMPIRI KEKUFURAN..

USAHA SELAGI DAYA BERUSAHA, SEMENTARA ALLAH MEMBERIKAN KITA KESIHATAN DAN KEWARASAN AKAL..

REZEKI ADA DI MANA-MANA, YANG PENTING KITA BERUSAHA SELAIN BERDOA, BERTAWAKAL KEPADA ALLAH S.W.T


Thursday, May 14, 2009

Lokasi : Didalam Pasaraya Besar
Masa : Jam 3.30 pm

Seorang penolak troli gigih bekerja. Dari warna kulit dan wajah, jelas berbangsa melayu. Bukan Nepal atau Burma. Bangsa sekulit dengan aku. Usia tidak muda dan tidak juga tua. Agaknya dalam lingkungan 30an. Benar2 mengerah keringat dan kudrat menolak tidak kurang 30 troli sekali lalu. Peluh memercik, jelas dimukanya. Setelah selesai dia tiba-tiba tersenyum bila merasakan ada mata yang sedang melihat dia bekerja tadi. Sebagai menghargai, aku balas senyuman sambil menghampiri beliau.

Dah lama kerja kat sini ? tanyaku sambil menghulur tangan untuk berjabat tanda awal memula perkenalan. baru lagi bang. Baru 2 bulan. Oh..jawabku ringkas. Sebelum ni ? Kerja kilang bang ! Dimana ? Di Pulau Pinang. Kilang tutup...nasib baik dapat kerja kat sini. Alhamdulillah ! Itupun terpaksa menganggur lebih 5 bulan tanpa kerja tetap.

Dari riak wajah, aku tahu dalam jiwanya terpamer azab kehilangan pekerjaan. Macamana kerja baru ni..ok ke tak ok ? aku menyoal lagi. Dia diam seketika..kemudian bersuara..kerja kuli bang! Nak kira ok tu..ok juga, cukup buat beli susu anak bang ! Berapa syarikat ni bagi sebulan ? banyak benar pertanyaan dari mulut aku ni untuk dia. Hmm..campur overtime..12 jam kerja sehari dari pukul 10 pagi sampai 10 malam, dapatlah RM800 sebulan. Banyak tu ? aku cuba menduga. Banyak ker? Cukuplah untuk sara anak bini. katanya ringkas. Hampir 10 minit aku luangkan masa untuk berbual dengan beliau, Halim namanya, ayah kepada 3 orang anak, 2 dah masuk sekolah rendah dan seorang lagi baru berumur 3 tahun. Tinggal di rumah sewa dengan sewaan RM250 sebulan. Agak perit bagi Halim, aku dapat rasa dengan gaji sebanyak itu. Apa nak buat...walaupun dia mempunyai Sijil dari Politeknik Ungku Omar, tapi yang jelas..pekerjaan beliau kini sebagai 'penolak troli'. Jika dahulu ketika bekerja kilang, sebagai juruteknik setiap bulan kurang2 dia boleh dapat RM1600 sebulan. Separuh dari pendapatannya hilang kerana masalah ekonomi sekarang. Nak salahkan kerajaan ker ? Entahlah..!!


Lokasi : Masjid Jamek ***
Masa : Lepas Maghrib (malam tadi)

Setelah selesai majlis bacaan Yaasin untuk Kekanda Sultan Perak yang mangkat, jemaah masjid dirai dengan jamuan kenduri arwah seorang dari jemaah kariah di anjung balai. Ikut giliran, aku yang nak buat jamuan tahlil arwah malam ni, tapi kerana kes khas, nampaknya giliranku untuk bersedekah bagi pihak arwah ibubapaku yang telah ke barzah terpaksa ditunda esok malam. lagipun bacaan Yaasin telah ditetapkan oleh JAIP untuk 3 malam berturut-turut mulai malam ini.

Sedang menjamu pisang dan nasi lemak kukus, kami dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki yang agak kusam dan lusuh pakaiannya. mengambil wuduk..jelas bukan orang kariah kami. Orang luar ni. Imam yang duduk di depan aku ketika itu, bersuara sambil memanggil anak muda yang baru habis berwuduk untuk duduk bersama menikmati jamuan arwah bersama. Agak malu2 dia, namun akhirnya tiada pilihan bila aku sendiri berkata, elok makan dulu, baru bersolat..kita solat jemaah nanti..kelak dibimbangkan solat tak kusyuk, mari makan..anak muda itu terus duduk bersama kami..kebetulan kerusi kosong hanya ada kat sebelah tok imam saja lagi.

Aku tuangkan air teh panas untuk anak muda ini. Memang dia agak malu. Mungkin keadaan yang asing bagi dia mungkin. Biarlah..setelah dihulurkan secawan teh, terus disambut. Namun apa yang aku perhatikan, anak muda ini seperti memang sedang lapar. Jelas aku lihat bagaimana dia memegang cawan dengan terketar-ketar, begitu juga ketika menyuap nasi ke mulut menggunakan sudu. Terketar2 dan tidak bercakap. Anak muda ini benar2 lapar, bisik hati ku. Tok imam bungkam sambil mulut mengunyah cebisan pisang yang tinggal separuh.

Setelah habis hidangan itu, aku hulur lagi sepinggan nasi lemak, mana tahu dia nak tambah. Lagipun nasi lemak memang ada yg belum berusik. Dia menolak. Cukup..ni pun dah kenyang ! katanya pantas. Oh! anak muda ini tak bisu. Dia normal. Dia boleh bercakap. Nampak kepuasan dimuka anak muda ini setelah perut terisi dengan hidangan kami malam ini. Syukur Alhamdulillah..! aku tersenyum. Dia juga tersenyum.

Dari mana ? aku mula buka mulut ! Dari Jawi. (Sebelah Nibong Tebal). Jauh juga tu..nak kemana ? Saya sedang cari kerja encik, dari pagi keluar sampai lepas maghrib..nampaknya tak ader rezeki lagi untuk saya dapat kerja hari ini. Semalam pun saya keluar cari kerja di sebelah BM (Bukit Mertajam) dah dapat tapi jauh pula nak berulang. Kerja tukang cuci pinggan di kedai mamak. Hari ni memang tak ada rezeki saya dapat kerja lagi ! Alhamdulillah..rezeki saya di masjid..sambil ketawa kecil, saikologinya itulah cara melepas tekanan paling murah sebenarnya. Ketawa ! Walaupun didalam hati, azab hanya Tuhan yang tahu.

Datang tadi naik apa ? Naik bas. MasyaAllah..! Ada bas ker lagi nak balik ke Jawi ? tanya saya untuk kepastian. Ada..bas akhir jam 9.30 malam. Ok..lah macam tu. Kerana saya berkopiah putih dia membahasakan saya sebagai bang haji !

Seusai habis bersolat jemaah Isyak, ketika saya mahu meninggalkan ruang solat tiba2 bahu saya dicuit dari belakang. Oh ! anak muda ini rupanya. Yer..ada apa yang boleh saya tolong ? Bang haji macam ni sebenarnya..saya kehabisan duit..bolehkah bang haji pinjamkan sedikit wang untuk saya, saya sesak sangat ! Bukan banyak..RM10 pun cukuplah..saya nak belikan anak saya susu ! Anak ? Berapa umur anak awak ? 4 tahun ringkas jawabnya. Anak perempuan. Cukup ker nak beli susu dengan RM10 ? Tanya saya lagi..untuk kepastian. Cukup ! Awak belikan anak awak susu apa dengan RM10 ? Saya makin kurang percaya. Susu tin F&N bang haji, itu saja yg saya mampu. Saya dah hampir 3 bulan diberhentikan kerja. Kilang tutup. Astagfirullah...!

Sambil mengeluarkan wang baki dalam kocek, anak muda ini menunjukkan jumlah RM1.70 sen kepada saya. Ini ajer wang yang tinggal bang Haji. Awak ikut saya, saya mengarahkan anak muda itu turun dari tangga masjid dan terus ke kereta. Setelah dibukakan pintu saya minta dia masuk, biar saya hantar awak ke stesyen bas, lagipun jam dah menunjukkan hampir 9.05 malam., dia akur dan menurut saja.

Ketika masuk ke Pusat Bandar, saya berhenti sekejap di ATM Ambank dan mengeluarkan RM50 hasil bayaran dari sahabat yang beriklan di blog saya, MULTY GREEN TRADING yang kalian lihat bannernya di blog sekarang, itu saja yang saya mampu bantu dan tolong anak muda ini. Dia terkejut juga kerana baginya agak banyak duit yang diberikan. Ambillah..saya tolong awak ikhlas, saya sedekah kerana Allah. Ambillah ! Jangan malu ! Setelah itu saya berhenti sekejap di 7-Eleven untuk dia belikan anaknya susu, saya mohon jangan belikan susu F&N, beli susu tepung ! Dia menurut bila dia masuk semula, saya dapat lihat sebungkus susu tepung Dutch Lady ada dalam karung plastik.

Saya beli susu ni bang haji, dah lama anak saya tak minum susu tepung..dekat 2 bulan jugak. Dengan harga RM15.20 sen, cukup mahal bagi anak muda yang telah kehilangan kerja ini, itulah harga kehidupan. Survival...ketika ekonomi negara tidak memihak kepada rakyat marhaen yang ramai kehilangan pekerjaan. Setelah menghantarnya ke Stesyen bas, jelas terlihat kegembiraan di wajah anak muda itu. Setelah mengucap salam, saya tinggalkan anak muda itu sendirian di Hentian Raya Pusat Bandar.

Inilah nasib bangsa yang sebangsa dengan ku, bangsa melayu. Islam. Kepada siapa lagi mahu diharapkan untuk terus menempuh survival kehidupan yang kian mencabar kini. ketika peluang pekerjaan makin mengecut..

(*) Ini kisah benar. Bukan rekaan. Buat renungan sahabat sekelian !


Sumber: Albanjari Online

Semoga jadi panduan kita bersama...


"Kamarul, esok result keluar." Suara Imran kedengaran di hujung corong telefon. "Kalau ada yang sangkut, habislah aku, extend 6 bulan lagilah." Nafas Kamarul seakan tersekat-tersekat apabila mendengar kata-kata Imran tadi. Kamarul berdebar-debar, dia sudah tidak sanggup lagi burning the midnight oil. Apabila keputusan keluar pada keesokan harinya, ia benar-benar bermakna bagi Kamarul.

"Alhamdulillah, aku lulus." Bagaikan arus sejuk singgah di kepalanya, dengan kelulusan itu Kamarul dianugerahkan Ijazah Sarjana Muda dengan Kepujian. Sejak hari itu, berpuluh-puluh permohonan kerja resume dihantar ke syarikat-syarikat besar. Akhirnya dia mendapat kerja di syarikat di Petaling Jaya, sebagai eksekutif dengan gaji RM1,500. Disebabkan tiada pengangkutan awam ke tempat kerja dari rumahnya, Kamarul membuat keputusan membeli sebuah motosikal yang berharga RM 3,500. Dia kekurangan wang lalu ingin meminjam daripada ibunya sebagai wang pendahuluan dan membayar bakinya dengan ansuran bulanan sebanyak RM200 selama 3 tahun. Ibunya memberikan RM3,500 kepadanya supaya membeli motor itu secara tunai. Apabila ada masa terluang pada hujung minggu, Kamarul pergi ke pusat membeli-belah bagi bermain boling dan menonton filem.

Pada suatu hari dia diperkenalkan dengan kad kredit, selepas diberitahu dia tidak perlu membayar satu sen pun bagi memilikinya. Tanpa berlengah-lengah lagi, Kamarul pun bersetuju. "Encik boleh faks satu salinan borang EA (borang pendapatan). " Lebih kurang dua minggu kemudian, kad kredit itu sampai dan dia pergi ke bank bagi mendapatkan nombor PIN kad itu. Sejak hari itu, kad itu tersimpan kemas tidak terusik di dalam dompetnya. Kini hampir setahun ia tersimpan di dalam dompet tanpa menggunakannya. Genap setahun bekerja di Syarikat ABC, Kamarul membeli sebuah kereta. Dia sudah tidak tahan dengan kepanasan cuaca dan terpaksa berteduh di bawah jambatan setiap kali hujan lebat. Harga kereta : RM 53,000 Wang Pendahuluan: RM 1,500 Tempoh : 9 Tahun (108 bulan) Ansuran : RM 624 Sejak memandu kereta, Kamarul mula menggunakan kad kredit bagi mengisi minyak keretanya. Sekiranya dahulu, dia membayar tunai kerana RM5 cukup bagi satu tangki minyak motornya, tetapi sekarang RM50 pun belum penuh satu tangki keretanya. Kamarul membayar minyak petrol keretanya menggunakan kad kredit dan menjelaskan bilnya apabila mendapat gaji pada hujung bulan. Pernah sekali kad kreditnya tidak dapat digunakan. Selepas kejadian itu, dia memohon satu lagi kad kredit dari bank yang lain. Sekiranya salah satu kad kreditnya rosak ataupun tidak diterima, dia masih ada satu lagi kad kredit yang dapat digunakan.

Seperti biasa, setiap tahun, gajinya akan naik di antara 5 - 9%. Kini gajinya RM 2,750. "Alhamdulillah dengan umur 26 tahun, aku sudah mendapat gaji sebesar ini." Hatinya benar-benar puas. Jodoh, rezeki, ajal dan maut di tangan Tuhan. Apabila sampai waktunya, semua remaja akan bersatu termasuklah Kamarul. Dia bertunang dengan Balqis dengan menetapkan hantaran kahwin sebanyak RM6,666. Semasa dalam pertunangan, Kamarul membuat satu pinjaman peribadi bagi urusan perkahwinannya. "Alhamdulillah, pinjaman aku lulus." Kamarul merasa gembira pinjaman peribadi sebanyak RM 15,000 dari sebuah bank tempatan diluluskan. Dia memerlukan duit yang banyak bagi menampung kos hantaran dan majlis perkahwinannya yang akan diadakan secara sederhana. Selepas berkahwin dengan Balqis, Kamarul membawa isterinya ke Kuala Lumpur dan mereka menyewa rumah teres setingkat dengan kadar sewa sebanyak RM 600 sebulan.




Seperti kebiasaan pada setiap pasangan baru berkahwin, terdapat banyak kekurangan yang perlu disediakan bagi keselesaan hidup berdua. Semasa bujang dia banyak menggunakan televisyen, mesin basuh dan peralatan lain yang dimiliki oleh rakan-rakan serumah. Selain daripada keretanya, harta bujangnya adalah sebuah radio. Rumah Kamarul sunyi sepi, sekiranya dahulu balik dari tempat kerja, dia dapat menonton televisyen. Tetapi kini, selepas sembahyang Isyak, mereka terus masuk tidur. Tidak sampai seminggu, dia pulang dengan sebuah TV berjenama 29 inci. Hatinya puas apabila melihat senyuman Balqis yang sedang menonton drama kegemarannya itu. Setiap hari dia terpaksa membeli lauk dan sayur-sayur kerana dia tidak mempunyai peti sejuk bagi menyimpannya. Akhirnya dia membeli sebuah peti sejuk yang besar dan selesailah sudah satu lagi masalahnya. Semasa bujang, dia menghantar pakaiannya ke kedai dobi, kini pakaiannya dibasuh di lantai bilik air yang sempit. Tidak tahan dengan keadaan itu, dia membawa pulang sebuah mesin basuh automatik yang dapat memuat muatan sehingga 7 kilogram. "Sayang, comforter pun kita boleh basuh dengan mesin ini, tidak payah lagi hendak hantar kedai dobi." Kamarul memberitahu isteri kesayangannya. "Mana abang dapat duit beli semua ini? Abang dapat bonus, ya?" tanya si isteri. Kamarul menjawab sambil tersenyum, "Alah, abang ambil di Court, bayar ansur-ansur. " "Kalau macam itu, boleh tak abang ambil microwave satu, senang lauk sejuk boleh kita panas, tahan lama sikit, tak payah buang." Balqis meminta. "Yelah sayang, nanti hujung minggu ini kita pergi ambil." Setiap kali ada jualan murah, Kamarul mengambil kesempatan membeli barangan dengan harga yang murah.

Kamarul sudah tidak lagi membayar semua perbelanjaannya melalui hutang kad kredit. Dia hanya membuat bayaran minimum kad kredit setiap kali menerima gaji. Pada masa ini dia sudah mulai mempunyai hutang kad kredit. Semasa di tempat kerja, seorang rakan menegur, "Kamarul, engkau sudah buka e-mel?", tanya si Man. "Kenapa Man? Boss declare bonus ke ?". Biji mata Kamarul hampir terkeluar apabila membaca e-mel daripada pihak pengurusan yang tertera 2.5. Dalam hatinya. "Ni bukan 1 bulan tapi 2.5 bulan." Muka Kamarul berubah berseri-seri . "Wow, banyak ni, orang kaya barulah kita." Sejak duit bonus sudah masuk ke dalam akaun semalam, Kamarul tidak dapat duduk diam. Dia asyik terkenangkan duit bonus itu. Akhirnya dia menjual keretanya dan membeli kereta 1.6 Automatik. Seperti biasa, bayar duit pendahuluan serendah yang mungkin dan memanjangkan tempoh pembayaran sehingga maksimum. Enam bulan selepas berkahwin, Kamarul membawa isterinya ke klinik pakar. Betapa gembiranya apabila doktor memberitahu isterinya mengandung. Setiap bulan Kamarul membawanya ke klinik pakar bagi memastikan kesihatan kandungan isterinya. Klinik ini menerima pembayaran melalui kad kredit.

Apabila sampai waktu bersalin, Kamarul memilih hospital swasta demi keselesaan isteri tercinta melahirkan zuriatnya yang pertama. Dia mengambil pakej tiga hari dua malam yang berharga RM 2,500 bagi bersalin secara normal. Akhirnya isterinya melahirkan anak lelaki yang comel seberat 3.2 kilogram melalui pembedahan Caesaran. Kamarul menggunakan salah satu kad kreditnya bagi membayar kos hospital yang berjumlah RM4,863.50. Daripada lampin sehinggalah ke susu, semuanya berjenama dan berkualiti demi puteranya pewaris keturunan. Kamarul berjaya mendapat kerja sebagai penolong pengurus di sebuah syarikat gergasi dengan gaji permulaan RM3,900.

Bagi meraikannya, dia membawa isteri dan anaknya makan besar di sebuah restoran makanan Jepun. Pembayaran dibuat dengan menggunakan kad kredit berjumlah RM 258.70. Sudah tujuh tahun dia tinggal di rumah sewa dengan isteri dan anaknya. Sudah tiga kali dia berpindah, dari rumah teres setingkat tiga bilik sehinggalah rumah teres dua tingkat empat bilik. Daripada sewa RM 600 sehinggalah kini dia membayar RM1,000 sebulan. Terdetik juga di hatinya, "Sampai bila aku nak hidup dengan menyewa?" Dia pergi ke bank menanyakan jumlah pembiayaan bagi sebuah rumah teres satu tingkat yang berharga RM 130,000. Alangkah terkejutnya apabila mendapati dia layak membuat pinjaman membeli rumah yang cantik, besar dan mahal. Apa lagi, dia pun membeli sebuah rumah teres dua tingkat berharga RM 176,000 dengan ansuran sebanyak RM1,233 selama 30 tahun. Semasa rumah sedang dalam pembinaan, dia membayar RM 700 sebulan bagi faedah selama dua tahun. Akhirnya seperti yang dipersetujui dalam perjanjian, pihak pemaju perumahan menyerahkan anak kunci rumah idamannya tiga bulan lebih awal daripada yang termaktub dalam perjanjian jual beli. Banyak juga barang yang tidak dibawa bersama ke rumah baru ini. Peti sejuk, mesin basuh dam sofa yang sudah usang tidak terkecuali disenaraikan dalam barangan yang akan dibuang. Kamarul dan Balqis ingin memastikan mereka sekeluarga berpindah ke rumah baru dengan gembira dan selesa. Apa tidaknya, daripada sofa sehinggalah katil anak-anaknya, semuanya baru. Dengan 'Skim Bayaran Mudah', Kamarul dapat mengambil barangan bernilai hampir RM 15,000 dan hanya perlu membayar RM 419 setiap bulan secara ansuran selama 5 tahun. Harga barang asyik meningkat, belum cukup bulan duit sudah habis.

Bermula pada saat itu, Kamarul mula berjinak-jinak dengan kad kredit. Sekiranya dahulu kad kredit digunakan bagi membayar petrol kereta, kini bayaran servis kereta, bil telefon, bil elektrik sehinggalah barangan dapur semuanya dibayar dengan kad kredit. Setiap kali mendapat gaji, Kamarul memastikan pembayaran minimum dibuat bagi setiap kad kredit yang dimilikinya. Kamarul dan Balqis sangat gembira semasa menyambut kelahiran anaknya yang keempat. Akhirnya Kamarul menukar lagi keretanya dengan membeli sebuah MPV yang berharga RM 100,000 lebih. Memang cantik, besar, selesa, dan kuasa enjinnya pula adalah 2.5cc. Dia menggunakan duit lebihan dari kereta 1.6 Automatiknya yang dijual. Ansuran bulanan hanyalah RM1,271 bagi tempoh 9 tahun. Lagipun dia baru menerima kenaikan gaji sebanyak 5% (gaji baru RM4090).

Pada suatu hari, berita memaparkan kenaikan minyak sebanyak 30 sen seliter bagi petrol. Perbelanjaan petrolnya sudah meningkat tetapi tidak dirasainya kerana pembayaran dibuat menggunakan kad kredit. Sehingga kini, dia masih tidak tahu berapa jumlah yang dibelanjakannya bagi minyak keretanya setiap sebulan. Dari hari ke hari, hutang Kamarul semakin meningkat disebabkan semua perbelanjaan dicajkan kepada kad kredit. Dia pula hanya membayar dengan bayaran minimum dan juga dikenakan dengan kadar faedah yang tinggi. Hutang semakin bertambah dan kini sudah setinggi gunung. Dia sudah tidak mampu mengira jumlah hutang sekarang. Lalu datanglah idea memotong separuh daripada hutangnya. Pinjaman perumahan yang sudah tinggal RM 90,000 dibiayai semula. Harga pasaran rumah itu pada masa ini adalah RM 280,0000. Dia mengambil pinjaman sebanyak RM 240,000 dan menyelesaikan pinjaman perumahan di bank lama sebanyak RM 90,000. Baki RM130,000 digunakan membayar hutang kad kredit, skim bayaran mudah, pinjaman peribadi dan kereta. Duit selebihnya digunakan bagi mengubahsuai rumahnya. Dia menyangkakan membuat keputusan yang bijak. "Aku sudah membuat keputusan yang bijak, semua hutang aku bayar. Cuma hutang rumah bertambah sikit, ansuran tinggi sikit, tempoh ansuran bertambah sikit dan kadar faedah (keuntungan) yang dikenakan sikit sekiranya dibandingkan dengan dahulu, semuanya sikit-sikit sahaja." Kamarul mengelamun seketika sambil menghirup kopi panas di kawasan beranda rumah yang sudah diubahsuai. Jangan lupa sikit-sikit lama-lama jadi bukit... . Kamarul terjebak semula dengan hutang kad kredit. Dahulu dia merasakan dialah pengguna yang bijak, rupa-rupanya pengguna yang sudah dipijak.







Kini hampir setiap hari dia diganggu oleh panggilan daripada bank yang memintanya membayar ansuran yang tertunggak. Bagaimana dia hendak bayar, sekiranya hutang bagi satu kad kredit sudah mencapai beribu-ribu ringgit. Dia pula memiliki enam kad kredit. Belum lagi dicampur dengan hutang sofa, katil dan lain-lain yang diambil dengan skim bayaran mudah. Ia sudah pun tertunggak selama dua bulan. Pulang dari kerja, dia dikejutkan lagi dengan surat-surat hutang. Kandungan surat itu memintanya menjelaskan hutang dalam masa 14 hari ataupun mereka akan mengambil tindakan saman. Segala simpanannya dikeluarkan bagi mengelakkannya menerima surat saman. Ada kalanya dia terpaksa menangguhkan bayaran ansuran rumah supaya dapat menjelaskan ansuran kad kredit yang sudah tiga bulan tertunggak. "Abang, susu Aiman sudah habis." Balqis berkata pada suatu hari semasa Kamarul pulang dari pejabat. "Kenapa Balqis tidak beritahu awal bulan, sekarang mana abang ada duit!" Dalam poket seluarnya hanya ada RM3, dalam bank RM 16.42. Dia terpaksa mendapatkan bekalan susu di pasar raya yang menerima pembayaran melalui kad kredit. "Ah, lega... kad kredit diterima" katanya sambil matanya tertumpu pada mesin pembaca kad kredit. Sampai sahaja di rumah telefon bimbitnya berbunyi. Balqis bingung mengapa Kamarul tidak menjawab panggilan itu. "Abang, telefon tu, kenapa tidak angkat?" tegur Balqis. "Biarlah, orang yang menguruskan kad kredit tu. Sudah pukul 7 malam pun masih nak bekerja, susahlah kalau macam ini." "Sudahlah sehari suntuk bank menelefon bertanyakan ansuran kereta yang dua bulan tertunggak. Bukan aku tidak mahu bayar, tetapi duit bulan ini sudah habis, tunggulah bulan depan," hatinya berbicara. "Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah juga.

" Begitulah nasib Kamarul. Sehingga kini, sudah tiga kali dia naik turun mahkamah. Hutang kad kreditnya sahaja sudah mencapai berpuluh-puluh ribu ringgit, tetapi gajinya masih di takuk lama. Kini hanya tinggal satu kad kredit sahaja yang dapat digunakan. Semua keperluannya terpaksa dibayar melalui kad kredit. Faedah yang perlu ditanggung lebih daripada RM500 sebulan itu belum dicampur pokok yang perlu dibayar. Dia merasa takut apabila dilanda musibah kerana tidak mempunyai duit simpanan. Apabila keretanya rosak, dia tidak dapat menggunakan kad kredit kerana semua kad kreditnya sudah hampir mencapai had maksimum. Dia terpaksa menangguhkan pembayaran ansuran rumah dan kereta dan menggunakan duit gaji itu bagi membaiki keretanya. Kemalangan, kena saman, kereta rosak, anak masuk wad, ahli keluarga sakit dan insurans kereta tamat adalah perkara-perkara yang mampu membuatkan dirinya tertekan. Kini, satu-satunya kenderaannya baru sahaja ditarik. Bagi mengurangkan kos, dia menghantar anak dan isterinya balik ke kampung buat sementara waktu. Sebenarnya dia tidak sanggup berpisah dengan mereka tetapi dia terpaksa. Dia sudah mendapat notis dari bank bagi mengosongkan rumah kerana ia akan dilelong.

Di kala Kamarul memerlukan sokongan daripada orang yang tersayang, dia diuji lagi dengan ujian yang besar. Isterinya memohon cerai kerana tidak tahan dengan keadaan hidup mereka yang semakin susah. Dia sudah tidak mampu memberi keperluan zahir kerana duit gajinya terpaksa digunakan membayar hutang-hutang itu. Dipendekkan cerita, pada 23 Ogos yang lepas, dia diisytiharkan muflis. Dia berasa sangat malu melihat namanya terpampang di dada akhbar-akbar tempatan. DALAM MAHKAMAH TINGGI MALAYA DI SHAH ALAM DALAM NEGERI SELANGOR DARUL EHSAN, MALAYSIA DALAM KEBANKRAPAN NO X-XXXX-XXXX BER: SI POLAN BIN SI POLAN (NO. K/P XXXXX-XX- XXXX) ... .Penghutang EX-PARTE: XYZ BANK BERHAD ... ... ... ..

Habis semua harta Kamarul dilelong bagi membayar balik segala hutangnya. Selepas rumah dan keretanya dijual, dia masih berhutang sebanyak RM 45,000. Kamarul berasa sangat tertekan. Dia merintih, "Mana aku hendak letak lagi muka aku ini, nama aku sudah tidak ada nilai lagi. Sekiranya dahulu dunia ini satu pinjaman, maka aku pinjamlah. Tetapi, kini aku sudah tidak ada apa-apa lagi. Hidup aku porak-peranda kerana hutang. Oh, malangnya nasibku, seorang yang mempunyai ijazah tetapi akhirnya kecundang. Tetapi kenapa yang banyak kecundang adalah orang yang berpendidikan tinggi seperti aku ? Harga diri aku sudah tergadai." "Wahai cucuku, setiap yang lahir ke dunia ini dimuliakan oleh Tuhan dengan maruah. Tetapi yang menjatuhkan dan menggadaikannya adalah kita. Tuhan tidak pernah ingin perkara yang tidak baik kepada kita, hanya kita yang menghancurkan diri kita. Bertaubatlah, sesungguhnya Tuhan itu maha pemurah dan pengampun." Suara seorang tua berpakaian serba putih yang muncul dalam mimpi semalam masih terngiang-ngiang di corong telinga Kamarul. Ketika ini terdengar di corong telinga Kamarul. "Roh seorang Muslim... " "Ya Allah, janganlah ambil nyawaku pada masa ini. Aku benar-benar takut sekiranya Tuhan mengambil nyawa aku pada masa ini kerana aku mungkin menjadi muflis di dunia dan akhirat."

Hidup aku Porak Peranda Keranamu Hutang Sinopsis Kewangan Kamarul ( Melalui 4 Fasa):

Fasa 1
Kais sebulan makan sebulan setengah. Sekiranya dahulu, pendapatan dan perbelanjaan Kamarul dapat diibaratkan 'Kais bulan makan sebulan setengah'. Tetapi selepas setahun di alam pekerjaan, Kamarul mengorak langkah dengan meningkatkan satu demi satu perbelanjaan tetap seperti ansuran kereta. Pada masa ini, Kamarul dapat menyimpan sebahagian daripada duit gajinya setiap bulan. Dia tiada hutang lain kecuali keretanya.

Fasa 2
Kais bulan makan bulan. Selepas dua tahun, akhirnya Kamarul diibaratkan 'kais bulan makan sebulan'. Gaji bulanannya hanya cukup membayar perbelanjaan bulanan dan perbelanjaan melalui kad kredit yang semakin bertambah. Pada masa ini Kamarul tidak mampu lagi menyimpan kerana duit gajinya yang diperuntukkan bagi menyimpan telah dikikis oleh hutang kad kredit. Dia membayar balik segala perbelanjaan yang dibeli melalui kad kredit pada setiap bulan. Hutangnya pada masa ini adalah kereta dan rumah.

Fasa 3
Kais bulan makan setengah bulan. Tanpa menyedari hakikat yang satu malapetaka yang teramat besar akan menimpanya tidak lama lagi, dia masih berbelanja tanpa membuat sebarang perancangan. Pada masa ini pendapatan bulanannya hanya mampu menanggung kos perbelanjaannya bagi setengah bulan manakala baki separuh lagi gajinya digunakan bagi membayar ansuran hutang. Dalam masa yang sama, dia terpaksa berhutang bagi separuh daripada keperluan yang tidak mampu dibayarnya dengan tunai. Akibatnya hutang kad kreditnya bertambah dari hari ke hari. Sekiranya dia memilih melambatkan pembayaran hutangnya, surat saman akan sampai kurang daripada tujuh hari. Ini kerana hampir semua ansuran hutangnya tertunggak 2 bulan.

Fasa 4
Kais bulan boleh makan seminggu. Sekarang Kamarul benar-benar di persimpangan, ¾ daripada gajinya digunakan bagi membayar ansuran minimum ataupun yang sudah tertunggak 3 bulan. Hanya tinggal suku daripada gajinya bagi makan, minum, pakai dan memenuhi keperluan asas yang lain. Gaji masuk setiap 28 haribulan. Pada 29 haribulan, duit dalam akaun sudah tinggal RM 78.42. Pada masa ini, Kamarul diwartakan sebagai muflis. Bukan kebaikannya yang dipamerkan di dada-dada akhbar tetapi hutang piutang yang tidak mampu dibayarnya.

Baca pelan- pelan dan penuh penghayatan.

Aku terlanggar seorang asing semasa berjalan,
"Oh maafkan saya, saya tak perasan"

Katanya "Maafkan saya juga,
Saya tak nampak saudara"

Kami amat bersopan dan saling menghormati,
Kami saling melambai sambil berlalu pergi,

Tetapi di rumah lain pula ceritanya,
Bagaimana kita melayan orang tersayang, tua dan muda,

Lewat petang, tika memasak makan malam,
Anak lelaki kecilku berdiri di dapur secara diam-diam,

Bila berpaling aku hampir melanggarnya jatuh,
Jerkahku, "Jangan buat kacau di sini, pergi main jauh-jauh"

Dia berlalu pergi, hatinya hancur luluh dan beku,
Aku tak sedar, bertapa kasarnya kata-kataku,

Sedangku berbaring di katil mendengar musik,
Terdengar suara halus datang membisik,

"Bila bersama orang tak dikenali,
Begitu bersopan dan merendah diri,
Tetapi ahli keluarga tersayang, sering dimarah dan dicaci",

"Cubalah kau pergi lihat di lantai dapur,
Kan kau temui bunga-bungaan berterabur",

"Itu adalah bunga-bunga dibawanya untuk kamu,
Dia memetiknya sendiri, kuning, biru dan unggu",

"Dia berdiri senyap agar jadi kejutan buat kamu,
Kamu tak pernah sedar airmatanya yang datang bertamu",

Pada tika ini, aku merasa amat kecil sekali,
Airmataku mencurah ibarat air di kali,


Senyap-senyap ku kebiliknya, dan melutut di katil,
"Bangunlah, anakku, bangunlah si kecil"

"Apakah bunga-bunga ini dipetik untuk mak?
Dia tersenyum, "Adik terjumpanya belakang rumah di semak"

"Adik memetiknya kerana ia cantik seperti ibu,
ibu tentu suka terutama yang unggu,

"Maafkan ibu, atas sikap ibu hari ini,
Ibu tak harus menjerkah kamu, sebegini,

Katanya,"Oh, ibu, itu tak mengapa,
Saya tetap sayang ibu melebihi segala,

Bisikku, "Anakku, ibu pun sayang kamu,
dan ibu suka bunga itu, terutama yang unggu,


FAMILY

Adakah kamu sedar, sekiranya kita mati hari ini,
syarikat tempat kita berkerja akan senang-senang mendapat pengganti,
dalam hanya beberapa hari?

Tetapi keluarga yang kita tinggalkan,
akan merasa kehilangan kita sepanjang hayat.

Dan sedarlah, sekiranya kita menghabiskan masa kita kepada kerja,
Melebihi keluarga kita, adalah merupakan suatu pelaburan yang tidak bijak.
Bukankah begitu?

Jadi apakah maksud yang tersirat?

Tahukah anda makna "FAMILY"?
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU


" HARGAILAH KELUARGA ANDA "


Kisah Laila

Bacalah buat pengajaran terutama untuk suami.

Kereta dihentikan betul-betul di hadapan rumah. Pintu pagar automatiknya terbuka. Perlahan kereta di halakan ke dalam garaj. "Horey! Papa balik!" Kelihatan anak-anaknya berlari mengiringi keretanya.

"Tepi! Bahaya tau tak?" Jeritnya. Anak-anak termanggu. Cahaya kegembiraan di wajah mereka pudar.

"Aimin bawa adik ke belakang." Arahnya pada anak yang sulong. Pulangnya petang itu disambut dingin oleh anak-anak. Isterinya turut terdiam bila mendengar anak-anak mengadu tentang papa mereka.

"Papa penat. Aimin bawa adik mandi dulu. Mama siapkan minum petang. Lepas minum papa mesti nak main bola dengan kita," pujuk Laila.

Dia yang mendengar di ruang tamu hanya mendengus. Seketika kemudian terdengar hilai tawa anak-anaknya di bilik mandi. Dia bangun. "Hah! Main air. Bil bulan ini papa kena bayar dekat seratus. Cepat!

Tutup paip tu! Buka shower!" Sergahnya. Suara yang bergema mematikan tawa anak-anaknya. "Asal saya balik rumah mesti bersepak. Kain baju berselerak. Apa awak makan tidur aje ke duduk rumah?" sambungnya kembali bila isterinya terpacul di belakang pintu.

"Anak-anak pa. Diorang yang main tu. Takpe nanti mama kemas. Papa minum ye. Mama dah siapkan kat taman." Balas isterinya lembut.
"Fail saya kat depan tu mana?"
"Mama letak dalam bilik. Takut budak-budak alihkan."
"Boleh tak awak jangan usik barang-barang saya? Susah tau tak? Fail tu patutnya saya bawa meeting tengahari tadi." Rungutnya sekalipun di hati kecil mengakui kebenaran kata-kata isterinya itu. Suasana sepi kembali.

Dia menarik nafas berat. Terasa begitu jauh berbeza. Dia tercari-cari riuh suara anak-anak dan wajah isterinya.

"Laila….." Keluhnya Akhirnya dia terlena di sofa.

"Saya nak ke out station minggu depan!."

"Lama?" Soal Laila.

"Dalam seminggu."

"Cuti sekolah pun lama. Mama ikut boleh?"

"Budak-budak? " "Ikut jugalah."

"Dah! Takde! Takde! Susah nanti. Macam-macam diorang buat kat sana.

Tengok masa kat Legacy dulu tu!"

"Masa tu Amirul kecik lagi." Balas Laila. Wajahnya sayu. Dia masih berusaha memujuk biarpun dia tahu suaminya tak mungkin berganjak dari keputusan yang dibuat. Tak mungkin peristiwa Amirul terpecahkan pinggan di hotel dulu berulang. Anak itu masih kecil benar sewaktu ia berlaku.

Lagipun apa sangatlah harganya pinggan itu malahan pihak hotel pun tak minta ganti rugi.

"Bolehlah Pa! Lama sangat kita tak ke mana-mana."

"Nak jalan sangat Sabtu ni saya hantar awak balik kampung," Muktamad!

Demikianlah seperti kata-katanya. Anak-anak dan isterinya dihantar ke kampung. Laila tak merungut apa-apa meskipun dia tahu isterinya berkecil hati. Anak-anak terlompat riang sebaik kereta berhenti di pengkarangan rumah nenek mereka. Tak sampai setengah jam dia telah bergegas semula untuk pulang. Bapa mertuanya membekalkan sebuah kitab lama.

"Cuba-cubalah baca. Kitab tu pun abah ambil dari masjid. Dari mereka bakar abah ambik bagi kamu!"

"Manalah saya ada masa.." "Takpe.. pegang dulu. Kalau tak suka pulangkan balik!" Dia tersentak dari khayalannya. "Kalau tak suka pulangkan balik!" Kata-kata itu bergema di fikirannya. Dia rasa tersindir. Tahukah bapa mertuanya masalah yang melanda rumahtangganya itu?

Bukan.. bukan tak suka malah dia tetap sayang sekalipun Laila bukan pilihannya. Dunia akhirat Laila adalah isterinya. Cuma.. "Mizi, makan!" Panggil ibunya yang datang menemaninya sejak seminggu lalu.. "Jangan ikutkan hati. Yang sudah tu sudahlah." "Papa! Makan!" Jerit Aiman ,anak keduanya sambil tersengih-sengih mendapatkan dirinya.

"Tak boleh panggil papa elok-elok.

Ingat papa ni pekak ke?"

Aiman menggaru kepalanya yang tak gatal. Pelik! Kenapa papanya tiba-tiba saja marah. Dia berpatah semula ke dapur. "Awak masak apa?"

"Mama masak sup tulang dengan sambal udang!" jawab Amirul memotong sebelum sempat mamanya membuka mulut.

"Takde benda lain ke awak boleh masak? Dah saya tak nak makan. Hilang selera!"

"Papa nak ke mana?" Soal isterinya perlahan.

"Keluar!"

"Mama dah masak Pa!"

"Awak saja makan!"

"Takpe Aiman boleh habiskan. Cepatlah ma!"

Laila tahu Aiman hanya memujuk. Anak keduanya itu sudah pandai mengambil hatinya. Aimin tersandar di kerusi makan. Sekadar memerhati langkah papanya keluar dari ruang makan. "Kenapa sekarang ni papa selalu marah-marah ma?" Soal Aimin sambil menarik pinggannya yang telah berisi nasi. "Papa banyak kerja agaknya. Dah! Makan." "Abang tak suka tengok papa marah-marah. ." "Adik pun sama. Bila papa marah muka dia macam
gorilla kan?"

Kata-kata Aiman disambut tawa oleh abang-abangnya yang lain. Laila menjeling. Di hati kecilnya turut terguris Besar sangatkah dosanya hingga menjamah nasi pun tidak. Kalau ada pun salahnya, apa?

Syamizi menjengah ke ruang dapur. Kosong.

"Laila.." serunya

"Sudahlah tu Mizi! Jangan diingat-ingat. Kerja Tuhan ni tak dapat kita tolak-tolak. Bawak-bawaklah beristighfar. Kalau terus macam ni sakit kau nanti." Kata ibunya yang muncul tiba-tiba.

"Sunyi pulak rumah ni mak,"

"Lama-lama kau biasalah."

Airmatanya menitis laju. "Kalau tak suka pulangkan!" Dia rasa terhukum.

Hampir segenap saat kata-kata itu bergema di sekitarnya. Dia rasa terluka. Kehilangan yang amat sangat.
"Papa beli apa untuk Aiman?" Soal Aiman sebaik dia pulang dari outstationnya.

"Beli apa pulak? Barang permainan kan bersepah dalam bilik belakang tu."

"Tak ada lah?"

"Ingat papa ni cop duit?"

Aiman termanggu. Dia berlalu mencari mamanya di dapur. Seketika kemudian rumah kembali riuh dengan telatah anak-anak lelakinya yang bertiga itu mengiringi mama mereka yang sedang mendulang berisi hidangan minum petang.

Wajah Laila direnungnya. Ada kelainan pada raut itu. Riaknya tenang tapi ada sesuatu yang sukar ditafsirkannya. "Awak tak sihat ke?"

Laila tersenyum. Tangannya pantas menuang air ke cawan.

"Papa, tak lama lagi abang dapat adik lagi." Aimin mencelah di antara perbualan kedua ibu bapanya.

Shamizi tersenyum. Jemari isterinya digenggam erat. Tiba-tiba cawan berisi kopi yang masih panas terjatuh dan pecah di lantai. Aiman tercegat.

"Tengok! Ada saja yang kamu buat. Cuba duduk baik-baik. Kalau air tu tak tumpah tak sah!" Tempiknya membuatkan anak itu tertunduk ketakutan. Baju mamanya dipegang kejap.
Lengan Aiman dipegangnya kuat hingga anak kecil itu mula menangis.

Pantas saja akhbar di tangannya hinggap ke kepala anaknya itu. Laila cuba menghalang tapi dia pantas dulu menolak isterinya ke tepi. Aiman di pukul lagi. Amirul menangis. Aimin mendapatkan mamanya.

"Perangai macam beruk! Tak pernah buat orang senang!"

Laila bangun dari jatuhnya dan menarik lembut Aiman ke dalam pelukkannya. Airmata mereka bersatu. Pilu sungguh hatinya melihat kekasaran suaminya terhadap anak-anak.

"Cukuplah pa. Papa dah hukum pun dia tapi janganlah sebut yang bukan-bukan. " Ujar Laila perlahan "Macamana awak didik budak-budak sampai macam ni teruk perangainya?

Tengok anak orang lain ada macam ni? Anak kak Long tu tak pulak macam ni. Panjat sana, kecah barang. Gila apa?" Omelnya kembali.

Shamizi meraut wajah. Bukan kepalang salahnya pada Aiman. Padanya anak itu tak pernah dapat memuaskan hatinya. Ada saja salah Aiman di matanya. Ada saja yang kurang di hatinya terhadap anak-anak dan isteri. Tak cukup dengan perbuatan malah dia begitu mudah melemparkan kata-kata yang bukan-bukan terhadap mereka.

"Tak boleh ke kamu semua senyap? Dalam sehari ni boleh tak diam? Rimas betul duduk dalam rumah ni."

Laila menyuruh anak-anaknya bermain di halaman belakang rumah. Memberi sedikit ruang buat suaminya menonton dengan tenang. Malangnya tak lama kemudian kedengaran bunyi tingkap kaca pecah. "Celaka betul!" Sumpahnya sambil menghempaskan akhbar ke meja.

"Abang!"

"Baik awak tengok anak-anak awak tu sebelum saya hambat dengan rotan!

Perangai satu-satu macam tak siuman!" Getusnya kasar.

Akhirnya tingkap yang pecah kembali diganti. Cerita sumpah seranahnya petang itu hilang begitu saja. Laila berubah. Sikapnya yang pendiam menjadi semakin pendiam. Anak-anak juga sedikit menjauh. Tak ada lagi cerita Amirul di tadika. Tak ada lagi kisah Aimin yang cemerlang di dalam sukan sekolahnya. Aiman juga tak lagi mahu memanggilnya makan.

Shamizi terasa puas hati. Barangkali itu saja caranya untuk memberi sedikit pengajaran pada anak-anak.

"Pak Ngah, Eddie nak balik!" Shamizi terpana. Dia mengangguk. "Kak Long balik dulu Mizi. Sudahlah! Kamu muda lagi. Cari pengganti." Alangkah mudahnya. Kalaulah dia boleh bertemu lagi yang serupa seperti Laila.

Laila tak ada yang kurang Cuma dia yang tak pernah puas hati. Laila tak pernah merungut. Laila tak pernah membantah. Sepanjang usia perkahwinan mereka Laila tak pernah meminta lebih dari apa yang dia beri. Laila cuma dapat gred B walaupun dia teramat layak untuk mendapat gred yang lebih baik dari A. "Laila!"
"Papa nak ke mana hensem-hensem gini?" Dia tersenyum sambil menjeling ke cermin meninjau bayang isterinya yang kian sarat. "Wangi-wangi lagi. Dating ye?"

"Saya ada makan malam di rumah bos besar. Dia buat makan-makan untuk staff." Ujarnya masih leka membetulkan kolar kemeja batiknya.

"Ikut boleh?"

"Dia tak ajak family. Staff only!" Terangnya sedangkan difikirannya terfikir lain. Kali ni dia akan pergi ke jamuan tu dengan Helmi. Helmi akan turut menumpangkan Maria dan Harlina. Staff yang masih muda dan bujang. "Dalam setahun papa selalu ke jamuan office tapi tak pernah pun bawak kami."

"Leceh kalau ada budak-budak. Bukan tau duduk diam Lari sana sini, panjat itu ini. "
"Papa pesanlah.."
Nantilah besar sikit." Dalihnya.

"Kalau tunggu besar takut takde peluang. Nanti diorang tu dah tak nak ikut pergi mana pun."

"Lagi senang. Saya kalau lasak-lasak ni buat hati panas je,"

Laila terdiam. "Namanya budak-budak. Anak-anak papa tu lelaki."

"Saya pergi kejap je. Lepas tu terus balik." "Mama tanya sikit boleh?"

Dia mengangguk "Bos tak pelawa atau papa malu nak bawa mama dan anak-anak?"

Mereka dia tinggalkan di rumah. Di jamuan tu ramai staff yang membawa keluarga mereka bersama. Pada Shamizi dia mahukan keselesaan sedangkan hakikatnya anak-anak staff yang lain lebih lasak dan nakal. Semeja hidangan untuk anak-anak staff berderai bila ada yang bermain tarik-tarik alas kainnya.

"Never mind. Budak-budak memang macam tu. Kalau tak lasak tak cerdik," ujar Mr. Kwai, tuan rumah.

Shamizi sedikit mengakui kebenaran kata-kata itu. Anak-anaknya pun nakal tapi amat membanggakan dalam pelajaran.. Namun dia rasa serba tak kena bila bersama mereka. Bimbang ada yang menyata yang bukan-bukan tentang anak-anaknya yang lasak apatah lagi tentang isterinya Laila. Bimbang dimalukan dengan perangai anak-anaknya. Bimbang jika dikatakan Laila tidak sepadan dengan dirinya. Dia lulusan luar negara sedang Laila cuma perempuan kampung. Tak pandai bergaya seperti staff wanita yang lain.

Betullah jangkaan Laila, dia malu untuk memperkenalkan isteri dan anak-anaknya pada rakan-rakan.

"Kalau tak suka pulangkan!" Kata-kata itu semakin keras di fikirannya.
Pagi itu anak-anak sekali lagi dimaki sebelum ke sekolah. Semata-mata bila Aimin dan Aiman bergelut berebutkan tempat duduk di meja makan menyebabkan air cuci tangan tumpah ke meja. Berangnya tiba-tiba menguasai diri. Kepala kedua-duanya di lagakan sedangkan perebutan itu tidak pula disusuli dengan perkelahian. "Kamu semua ni.. kalau macam ni daripada ada elok tak ada. Menyusahkan! " Laila merenungnya dalam..
Matanya berkaca dan anak-anak ke sekolah tanpa menyalaminya seperti selalu. Laila juga tidak berkata apa-apa sebelum menghidupkan enjin untuk menghantar anak-anak ke sekolah. Shamizi dapat melihat Laila mengesat airmatanya. Dia terus menghadapi sarapannya. Sejenak dia terpandang hidangan untuk anak-anak yang tak bersentuh. Susu masih penuh di cawan. Roti telur yang menjadi kesukaan anak-anak juga tidak dijamah.

Bekal di dalam bekas tidak diambil. Pelik! Selama ini Laila tak pernah lupa.. "Kalau tak suka pulangkan,"

Kali ini dia benar-benar menangis. Laila dan anak-anak terus tak pulang selepas pagi itu. Hari-harinya tak lagi diganggu dengan gelagat anak-anak. Rumah terus sunyi dan sepi. Tetap dia tak dapat tidur dengan lena. Di halaman belakang hanya ada kenangan. Kelibat anak-anaknya bergumpal dan berlari mengejar bola tak lagi kelihatan.. Riuh anak-anak bila mandi di bilik air juga tidak lagi kedengaran. Dia mula dihambat
rindu. Hanya ada kesunyian di mana-mana. Hanya tinggal bola yang terselit di rumpun bunga.

Selaut rindu mula menghambat pantai hatinya. Laila& Benarlah, kita hanya tahu harganya bila kita kehilangannya.

Laila terus tak pulang sekalipun dia berjanji untuk berubah. Laila pergi membawa anak-anaknya pagi itu bila kereta mereka dirempuh sebuah kereta lain yang dipandu laju. Laila pergi tanpa meninggalkan satu pun untuknya. Laila pergi membawa Aimin, Aiman, Amirul dan zuriat yang bakal dilahirkan dua bulan lagi..

Dia menangis semahu-mahunya bila menatap wajah lesi anak-anak dan isterinya. Dia meraung memeluk tubuh Laila yang berlumuran darah.

Hakikatnya Laila adalah kitab lama itu, lapuk bagaimana pun dipandangan harganya tak terbanding, dan kerana keengganannya Laila dipulangkan.

Seorang lelaki telah berumah-tangga dengan seorang wanita solehah. Hasil dari perkahwinan ini pasangan tersebut telah dikurniakan beberapa orang anak lelaki dan perempuan, kehidupan mereka sekeluarga sungguh bahagia dan sejahtera.

Si isteri sewaktu hidupnya, adalah seoarang wanita yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia dan rajin beribadah, ia juga adalah isteri yang setia dan taat kepada suaminya, seorang ibu yang penyayang dan sebaik-baik pendidik kepada anak-anak-anaknya.

Rumah tangga yang indah ini kekal selama 22 tahun, sehinggalah si isteri meninggal dunia. Setelah jenazah si isteri diuruskan dengan sempurna, disolatkan dan dikebumikan, maka semua ahli-keluarga, saudara-mara dan kaum-kerabat berhimpun di rumah si suami untuk mengucapkan ta'ziah. Kesemua yang berhimpun itu mahu mengucapkan kata-kata yang boleh meringankan dan mengurangkan rasa pilu dan kesedihan si suami kerana kehilangan isteri yang paling dikasihi dan dicintai.

Namun demikian, sebelum sempat sesiapapun berkata-kata, si suami telah berkata:
" semoga tidak ada sesiapapun dari kamu yang mengucapkan ta'ziah kepadaku sebaliknya dengarlah kata-kata ku ini."

Semua yang berhimpun terkejut dan terdiam dengan kata-kata si suami itu..

Si suami meneruskan kata-katanya: "Demi Allah yang tiada AIlah yang berhak disembah melainkan-Nya, sesungguhnya hari ini adalah hari yang paling bahagia dan gembira bagiku, lebih gembira dan bahagia dari malam pertamaku bersama isteriku itu.

Maha Suci Allah Ta'ala, sesungguhnya isteriku itu adalah sebaik-baik wanita bagiku, kerana ia sentiasa mentaatiku, menguruskan diriku dan anak-anakku dengan sebaik-baiknya dan juga ia telah mendidik anak-anakku dengan sempurna. Aku sentiasa bercita-cita untuk membalas segala jasa-baik yang dilakukannya kepada diriku. Apabila ia meninggal dunia aku teringat sebuah hadith Nabi (salla 'Llahu 'alayhi wa aalihi wa sallam);

"Mana-mana wanita yang meninggal-dunia sedang suaminya redho kepadanya pasti akan masuk ke dalam Syurga."[1]

Tatkala akan meletakkan jenazahnya di dalam lahad, aku telah meletakkan tanganku di kepalanya dan aku berkata: "Wahai Allah, Aku sesungguhnya redho kepadanya, maka redhoilah ia." Kulang-ulang kata-kataku itu, sehingga tenang dan puas hatiku..

Ketahuilah sekalian, sesungguhnya aku, di saat ini amat berbahagia dan bergembira, tidak dapat ku gambarkan kepada kalian betapa hebatnya kebahagian dan kegembiraan yang ku rasakan ini.

Maka barang siapa yang telah bercadang untuk mengucapkan ta'ziah kepada ku atas kematian isteriku itu, maka janganlah kamu melakukannya. Sebaliknya ucapkanlah tahniah kepadaku, kerana isteri telah meninggal dunia dalam keadaan aku redho kepadanya. Semoga Allah Ta'ala menerima isteriku dengan keredhoan-Nya."

Masyaallah!alangkah bahagianya mendapat keredhaan suami mcm nie..adakah kita mampu lakukan seperti yg dilakukan terhadap suaminya sehingga pemergiannya diredhai dan membahgiakan suaminya...

Kebanyakkan sekarang nie ramai gak suami2 yg redha dan bahagia jika isteri mereka meninggal dunia. tetapi bahagia kerana boleh kawin lagi hehehee...

Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar. Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting yang paling bermanfaat yang paling disukai

HIJAU berkata:"Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan.
Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan.
Tanpa aku, semua haiwan akan mati.

BIRU menyampuk:
"Kamu hanya berpikir tentang bumi,pertimbangkanlah langit dan samudra luas.
Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan.
Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa kedamaian, kamu semua tidak akan menjadi apa-apa"

KUNING menjerit:
"Korang ni serius ke? Aku membawa tawa, kesenangan,ceria dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning. Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa aku, dunia tidak ada kesenangan."

ORANGE menyusul dengan meniupkan trompetnya:
"Aku adalah warna kesihatan dan kekuatan. Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi keperluan kehidupan manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah labu, jeruk, mangga dan papaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi aku mengisi lazat saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahanku begitu menakjubkan hingga tak seorangpun dari kalian akan terfikir di fikiran orang."

MERAH tidak boleh diam lebih lama dan berteriak:
"Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah - darah kehidupan!
Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani untuk bertempur demi suatu kuasa.
Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan.Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah, poinsentia dan bunga poppy."

UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya ia mampu:
Ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan. "Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin dan para marhain memilih aku sebagai pertanda kuasa dan
kebijaksanaan. Tidak seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku."

Akhirnya NILA berbicara lebih perlahan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama:
"Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan adaku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal. Aku mempersembahkan pemikiran dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian memerlukan aku untuk keseimbangan dan kontra, untuk doa dan ketenteraman batin."

Jadi, semua warna terus menyombongkan diri, masing-masing yakin akan kehebatan dirinya.
Perdebatan mereka menjadi semakin keras. Tiba-tiba, cahaya halilintar melintas membutakan.
Guruh menggegar.

Hujan mulai turun tanpa kasihan.Warna-warna sama-sama ketakutan, berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.

Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara:
"WARNA-WARNA , kalian bertengkar satu sama lain, masing-masing ingin mendominasi yang lain. Tidakkah kalian tahu bahawa kalian masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus,unik dan berbeza?

Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!"
Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati hujan, yang kemudian berkata:

"Mulai sekarang, setiap kali hujan turun, masing-masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai mengingatkan bahawa kalian semua dapat hidup bersama dalam kedamaian.

Pelangi adalah pertanda Harapan hari esok."
Jadi, setiap kali HUJAN turun keras membasahi bumi dan saat Pelangi memunculkan diri di angkasa marilah kita MENGINGAT untuk selalu MENGHARGAI satu sama lain.

MASING-MASING KITA MEMPUNYAI SESUATU YANG UNIK, KITA SEMUA DIBERIKAN KELEBIHAN DAN KELEMAHAN UNTUK SALING BERGANTUNG ANTARA SATU SAMA LAIN UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN DI DUNIA DAN SAAT KITA MENYEDARI PEMBERIAN ITU, MEMBERI KEKUATAN VISI KITA, KITA MEMPEROLEH KEMAMPUAN UNTUK MEMBENTUK MASA DEPAN ....

Persahabatan itu bagaikan pelangi:
Merah bagaikan buah epal, terasa manis di dalamnya.
Jingga bagaikan kobaran api yang tak akan pernah padam.
Kuning bagaikan mentari yang menyinari hari-hari kita.
Hijau bagaikan tanaman yang tumbuh subur.
Biru bagaikan air jernih.
Ungu bagaikan kuntum bunga yang merekah.
Nila-lembayung bagaikan mimpi-mimpi yang mengisi kalbu.



*alih bahasa dari Indonesia

Contoh nyata kesetian pasangan suami - isteri............Luar Biasa



Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh seisi dunia.
Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan
diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad.

Laki-laki China berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya
(hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal dunia di dalam gua yang
selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya.
50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin ....



Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbezaan usia di antara mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak....



Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua.....Untuk menghindari gossip murahaan dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah gua di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.



Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada elektrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi hidup mereka.

Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan ia berulang-kali bertanya,"Apakah kau menyesal?" Liu selalu menjawab, "Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik".

Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun.

Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara (adventurers) melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka berasa pelik menemukan pasangan usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.

Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, "Orang tuaku sangat saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga itu untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.



Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, isterinya.



"Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai aku meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup tanpamu?"

Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenazah suaminya dan dengan air mata yang membasahi pipinya.

Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan "anak tangga cinta" itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat hidup terus..

Isteri curang ugut bunuh diri

LUAHAN hati yang datang daripada kaum lelaki untuk ruangan DCCK ini memang kurang diterima. Namun sesekali menerima cerita mereka memang mengejutkan.
Masih ingatkah anda dengan sebuah kisah yang dipaparkan tiga tahun lalu tentang penderitaan seorang suami apabila mengetahui isterinya menduakannya hingga melahirkan seorang anak? Kisah yang lebih kurang sama saya paparkan minggu ini, datangnya daripada Azlan.

Cerita Azlan, zaman ini wanita tidak boleh lagi tuduh kaum lelaki sahaja jahat buat maksiat, skandal dan berzina.

''Wanita pun sama,'' demikian kata Azlan ketika kami berbual di telefon Selasa lalu setelah membaca e-mel yang dihantar kepada penulis.

Kata Azlan: ''Ruangan ini banyak menyiarkan kisah tentang penderitaan kaum wanita sahaja konon suami berlaku tidak adil, zalim dan sebagainya. Tetapi tahukah anda bahawa penderitaan yang terpaksa ditanggung oleh suami jauh lebih teruk daripada penderitaan yang dipikul oleh kaum wanita?

''Sebenarnya saya tak tahu bagaimana nak memulakan cerita ini, sebab hati berbelah bagi sama ada ingin dipaparkan untuk panduan pembaca ataupun tidak. Tetapi setelah difikirkan, saya kira kenangan pahit kehidupan saya ini amat baik untuk dijadikan pedoman, khusus kepada kaum lelaki supaya tidak diperbodohkan oleh isteri. Wanita juga insaflah, Allah melihat apa yang anda lakukan.

''Saya tidak menyedari perubahan isteri saya, sebab kami begitu sayang menyayangi, tidak pernah bertengkar apa lagi bergaduh besar. Kalau ada masalah, kami selesaikan seberapa segera, supaya masalah itu tidak menjadi nanah atau pun barah.

''Tetapi nak jadikan cerita, satu hari kami sama-sama menonton drama tv.
Kisah kecurangan seorang isteri terhdap suaminya. Akhirnya si isteri dapat balasan Allah. Sebaik habis ceritanya, hati saya tergerak bertanya kepada isteri saya Hasmidar dengan bergurau apakah dia ada menyimpan rahsia tentang dirinya terhadap saya. Tiba-tiba air mukanya berubah tak tentu hala.

''Melihatkan perubahan keadaannya, saya bertanya lagi, dia menafikan. Saya desak lagi dia jadi lebih tak tentu hala. Melihat perubahannya, saya terus menadah tangan berdoa di hadapannya 'Ya Allah kau laknatilah dia jika dia berlaku curang terhadap aku, aku reda.......Belum habis saya berdoa lagi, tiba-tiba dia menangis menahan saya dari meneruskan doa saya.

''Abang ampun bang, abang terlalu baik kepada saya, saya memang jahat.
Abang ampun dan maafkanlah saya, saya banyak buat dosa pada abang. Abang ampunkanlah saya. Abang ampun! Ampun! Ampunkan saya bang, katanya dalam tangisan.

''Saya kehairanan. Apa dah jadi. Saya tanya Has beberapa kali tetapi dia tidak menjawab selain meminta ampun berkali-kali dan menangis. Sambil memegang bahunya saya tanya lagi, ''Has berhenti menangis, abang nak tanya apa yang dah terjadi? Sampaikan kau minta ampun berkali-kali ini. Apa dah terjadi, apa kau dah lakukan di belakang abang?

''Dalam tangisannya, Has berkata, saya tidak akan mengampunkan dan maafkan dia kalau dia ceritakan apa yang berlaku. Namun dia reda atas apa yang akan saya lakukan. Tetapi katanya dia tetap cintakan saya, sayangkan saya dan anak-anak. Apa yang dilakukan secara tidak sengaja. Penjelasannya membuatkan saya lebih pelik.

''Saya tahu dia memang selalu keluar makan dengan rakan-rakan perempuan dan lelaki di tempat kerjanya, tak pernah saya terfikir dia buat benda yang tak baik. Saya jujur, saya fikir tentu dia juga jujur.

''Tetapi mulutnya terus meminta maaf dan ampun dengan tangisan dan air mata merambu-rambu keluar. Perbuatannya membuatkan mulut saya dengan keras bertanya, kau berzina ke? Hah! Kau berzina? Dalam tangis dia menganggukkan kepala.

''Astaghfirullah! Saya mengucap beberapa kali untuk menenangkan diri. Ya Allah apalah malangnya nasib aku ni ya Allah! Betulke apa yang aku dengar ini Ya Allah! Saya mengucap lagi sambil beristighfar beberapa kali. Lantas keluar bilik dengan mata serta kepala berpusing-pusing. Ya Allah apalah nasib aku yang malang ini!

''Saya bukan jenis lelaki panas baran, jika lelaki lain pasti malam itu kalau tak bengkak dan luka pasti Has sudah kena sepak terjang hinggap ke muka dan ke badannya. Mungkin juga saya ni terlalu baik macam dia katakan. Kerana sepanjang 15 tahun berkawin saya tak pernah cemburukan dia, malah saya percayakan dia 100%. Kerana itulah juga saya tidak pernah bersuara tinggi apa lagi menampar dan memukulnya.

''Hinggakan bila saya mendengar ceritanya malam itu, saya masih boleh mengucap panjang, keluar bilik dan tidak memarahinya sebaliknya saya bersabar. Jadi pembaca boleh fikir betapa sabar dan baiknya saya jika itu boleh saya katakan.

''Saya bukan dayus atau takut bini, tetapi saya terlalu sayangkan anak-anak kami yang tiga orang ini. Saya tidak mahu hidup mereka huru hara kerana masalah ibu bapa mereka. Bahkan saya tidak mahu mak mertua saya seorang ibu tunggal menangis mengenangkan nasibnya, kerana kamilah tempat dia mengharap dan bergantung harapan. Kalau saya tak sabar pasti malam itu perang dunia ketiga meletus.

''Untuk pengetahuan pembaca hidup kami suami isteri selama ini memang bahagia, tiada masalah besar. Dia kerja tak tentu masa, sepeninggalannya sayalah yang jaga rumah dan anak-anak. Kerana saya kerja dari pukul 9 pagi hingga 6 petang. Sayalah yang ambil dan hantar anak ke rumah pengasuh.
Anak-anak mempunyai lebih banyak masa dengan saya berbanding Has, malah saya yang menguruskan makan minumnya, kalau malas masak saya beli nasi bungkus. Itulah cara hidup kami semuanya berjalan lancar dan saya bukan jenis demand makan minum mesti siap atas meja, pakaian mesti digosok, rumah mesti bersih.

''Malah saya lebih banyak menguruskan kebersihan rumah dan pakaian daripada dia kerana kerjanya tak menentu. Kalau keluar bekerja salam jadi kebiasaan, malah siap cium pipi, pendeknya kami memang loving couple. Tetapi sekarang apa dah jadi?

''Malam itu saya tak boleh buat keputusan. Fikiran saya buntu. Apakah saya ini kurang baik punca dia buat maksiat? Makan minum, tempat tinggal saya sediakan apa yang tak cukup? Patutnya dia bersyukur, saya bukan kaki ronda, lepak warung, kelab, dan sebagainya. Bahkan dalam setahun pasti dua tiga kali saya bawa mereka makan angin cuti-cuti Malaysia. Lebih penting saya bukan kaki perempuan.

''Bila saya tanya banyak kali barulah dia cakap. Katanya jarang dapat, seminggu sekali aja. Terus saya tanya, apakah dia sering di rumah waktu malam? Sebaliknya dia lebih suka bekerja. Salah saya ke? Malah dia sering mengalah, kerana tak larat. Salah saya ke? Biasanya dia tidur awal dan saya tak suka kejut dia sedang tidur. Tak syoklah!

'''Malam tu kami tidur lewat, dia masih minta ampun tapi saya kata, minta ampun pada Allah semoga Dia ampunkan. Bagi saya tiada ampun untuknya sejak peristiwa tujuh bulan lalu itu hinggalah kini. Malah ia jadi sejarah hidup dalam hidup saya.

''Dua hari selepas peristiwa itu, saya soal dia lagi dah berapa lama perkara ini berlaku. Katanya, ia bermula sejak setahun lalu. Jahanam punya perempuan, sanggup dia menduakan saya yang jujur ini. Dia mengaku cuma enam kali dia buat kerja terkutuk itu. Lagi berdesing telinga saya mahu saya terajang dia. Tapi saya sabar. Katanya dia dah insaf, sayalah suami terbaik untuknya. Saya kata dah terlambat. Saya jaga anak-anak kat rumah dia kata pergi kerja, tetapi dia pergi hotel. Celaka punya perempuan. Kami bertengkar sakan malam tu. Tiba-tiba dia lari ke dapur ambil pisau nak bunuh diri. Saya sempat selamatkan dia.

''Memang dia dah gila, patutnya saya yang mengamuk, ini dia yang naik hantu, dah terbalik. Katanya dia insaf dan mahu saya ampunkan dia dunia akhirat. Seminggu lepas tu, hati saya tak sedap, saya soal lagi adakah jantan itu pernah datang rumah?

''Dia kata ada, tapi tak masuk. Cuma hantar buah-buahan. Sakitnya telinga, saya terus bagi penampar. Itulah pertama kali saya tampar dia. Saya marah sebab dulu dia kata adik angkatnya yang bagi buah-buahan tersebut, bagi saya makan. Kami bertengkar lagi. Kali ini dia ambil pisau cuba potong urat nadi di tangannya. Dan kunci dirinya dalam bilik. Saya nasihatkan dia ingatkan Allah, dan jangan tambah dosa.

''Sejak peristiwa itu saya tak soal dia lagi takut dia mati, saya pula masuk lokap. Kini setelah kesnya terbongkar saya suruh dia sembahyang dan berdoa semoga Allah ampunkan dia. Saya boleh terima dia jika dia berjanji tak ulangi lagi perbuatan terkutuk itu. Namun hati saya yang punya, saya tidak dapat lagi memberikan kasih sayang kepadanya sama seperti dulu.

''Dulu tiap-tiap hari cium pipi, tangan, sekarang saya kata padanya jangan buat lagi, jangan berpura-pura. Saya katakan padanya bahawa saya takkan ampunkan dosanya. Namun kami hidup bersama hingga kini semuanya kerana anak-anak dan saya tak mahu dia ugut bunuh diri.

''Namun dia izinkan saya kahwin lagi, dia reda, asalkan saya tidak ceraikan dia dan jaganya seperti dahulu. Tetapi saya bukan jenis orang suka mengira kepala bini. Cinta dan kasih sayang bukan boleh disorong dan ditarik bila-bila suka. Ia datang dari lubuk hati yang sukar ditafsirkan nilainya.

''Bagaimanapun saya tak boleh cakap habis, mungkin satu hari nanti Allah mengubah hati saya, lagi pun umur saya belum 40 tahun, dia enam tahun muda daripada saya, mungkin bila keadaan kembali tenang kami boleh membentuk jalan sendiri. Mungkin itu cara yang terbaik. Tapi sekarang dia tak mahu diceraikan.

''Kata Has kalau saya kahwin lagi dia sanggup pinangkan sebagai menebus dosa nya. Dia sanggup buat apa sahaja demi cintanya pada saya. Tetapi saya katakan kalau betul cinta dan sayangkan saya kenapa cari jantan lain?
Menurut Has dia pun tak sangka, segala-galanya berlaku secara tak sengaja, baru jumpa dan berkenalan beberap minggu dia sudah boleh lupakan cintanya pada saya dan sanggup berbohong kata overtime sedangkan hakikatnya dia pergi ikut jantan tu tidur di hotel. Ini yang membuatkan saya tak dapat maafkan Has, kerana begitu mudah dia melupakan janji dan ikrar cintanya kepada saya sebelum kami berkahwin dan setiap tahun menyambut ulang tahun perkahwinan.

''Kerana terlalu marah dan ikutkan rasa hati saya, andai ditakdirkan dia mati dulu, saya tak akan bacakan yassin dan buat tahlil untuknya.. Begitulah marah dan geramnya saya atas perbuatannya menduakan saya.

''Lagi pun jika kami bercerai saya kasihankan anak-anak juga mertua saya yang telah tua. Tetapi sayangnya anaknya tidak pernah fikir dan kaji dari perbuatan keji dan buruk yang telah dilakukannya. ''

Demikianlah cerita Azlan panjang lebar tentang masalah dan peristiwa hitam yang menyelibungi hidupnya. Katanya dia tidak ada tempat nak mengadu untuk melegakan sesak di dada dan dia mahu bercerita kepada orang yang tidak dikenali supaya kesannya tidak menyiksa hidupnya nanti.

Memang tepat seperti kata Azlan. Zaman ini terlalu banyak godaan, akibat percampuran yang luas tanpa mengguna fikiran. Memang ada kalangan wanita yang cepat lupa diri. Cepat terpengaruh dengan pujuk rayu, akhirnya merosakkan diri dan masa depan anak-anaknya. Ingatlah bukan semua lelaki seperti Azlan mahu mengutip isteri yang pernah mencontengkan arang ke mukanya. Insaflah. Bekerjalah dan carilah rezeki yang halal semoga terselamat dari sumpahan suami di dunia dan akhirat.

Sumber: DCKK Utusan Malaysia

bagus kisah nih..bacalah..sesungguhnya tiada kuasa lain yang dapat
menandingi kekuasaan Allas swt..amin

Bacalah....moga menjadi iktibar.


Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Disitu ada seorang perempuan tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan menjualnya di pasar setiap hari.. Ia merupakan satu-satunya sumber pendapatannya untuk menyara hidup. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri.

Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untuk pergi menjual tempenya, tib a tiba dia tersedar yang tempenya yang diperbuat daripada kacang soya hari itu masih belum menjadi, separuh jadi.Kebiasaannya tempe beliau telah masak sebelum bertolak. Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah
kesemuanya belum masak lagi.

Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe yang masih belum menjadi pastinya tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam suasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman Tuhan yang menyatakan bahawa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib,bahawa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , "Tuhan , aku memohon kepadaMu agar kacang soya ini menjadi tempe. Amin"

Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya.. Dia sangat yakin bahawa Tuhan pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan hujung jarinya dan dia pun membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang soya itu menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap kacang soya.

Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas didengar oleh Tuhan. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan berdoa lagi. "Tuhan, aku tahu bahawa tiada yang mustahil bagiMu. Bantu lah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe kerana inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah kacang soyaku ini kepada tempe, Amin".

Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan hairan apabila tempenya masih tetap begitu!! Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mula didatangi ramai orang. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Walaubagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi dia bercadang untuk tetap pergi ke pasar membawa
barang jualannya itu. Perempuan tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan pemergian ke pasar sambil berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan masak.

Dia berfikir mungkin keajaiban Tuhan akan terjadi semasa perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. "Tuhan, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini. Amin". Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya.

Sesampai sahaja di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah menjadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yang ada.

Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya masih belum menjadi!! Dia pun kaget seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Tuhan kerana doanya tidak dikabulkan.
Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya punca rezekinya, hasil jualan tempe. Dia akhirnya cuma duduk sahaja tanpa mempamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahawa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi.
Sementara itu hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula kurang.

Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang.
Namun jauh d i sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Tuhan, pasti Tuhan akan menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, "Tuhan,berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum menjadi ini."

Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita.

"Maaf ya, saya ingin bertanya, Makcik ada tak menjual tempe yang belum menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinya tapi masih belum berjumpa lagi." Dia termenung dan terpinga-pinga seketika.
Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya"Tuhan, saat ini aku tidak mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin".

Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun penutup tempenya. Alangkah seronoknya dia, ternyata memang benar tempenya masih belum menjadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya dan bersyukur pada Tuhan. Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang belum menjadi itu. Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, "Mengapa hendak membeli tempe yang belum jadi?"
Wanita itu menerangkan bahawa anakn ya yang kini berada di England teringin makan tempe dari desa. Memandangkan tempe itu akan dikirimkan ke England,si ibu tadi kenalah membeli tempe yang belum jadi lagi supaya apabila sampai di England nanti akan menjadi tempe yang sempurna.
Kalau dikirimkan tempe yang sudah menj adi, nanti di sana tempe itu sudah tidak elok lagi dan rasanya pun kurang sedap.

Perempuan tua itu pun kehairanan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah pun dimakbulkan oleh Tuhan...

Moral:

Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sewaktu berdoa, padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan dan apa yang terbaik untuk diri kita.

Kedua:. Sentiasalah berdoa dalam menjalani kehidupan seharian kita sebagai hambaNya yang lemah. Jangan sekali-kali berputus asa terhadap apa yang dipinta. Percayalah bahawa Tuhan akan mengabulkan doa kit a sesuai dengan rancanganNya yang mungkin di luar jangkaan kita.


Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan

Salam Ramadhan Al-Mubarak,moga ibadah kita diberkati..

Jika anda diberi pilihan untuk menjadi semut, labah-labah atau lebah, manakah yang akan anda pilih? Orang yang rajin bekerja akan memilih menjadi semut, sebab melambangkan kerajinan, iltizam, kerjasama, kesatuan, hidup bermasyarakat dan sentiasa aktif.

Orang yang merasakan dirinya bijaksana akan memilih menjadi labah-labah sebab pada anggapannya labah-labah amat cerdik. Dia membina sarang sekali sahaja tetapi mampu duduk senang dan tetap mendapat makan selamanya.

Manakala orang yang merasakan hidup perlu berjasa akan memilih menjadi lebah. Pada anggapannya lebah sangat rajin, cerdik, juga berkuasa. Sengatan lebah boleh mematikan.

Apakah pilihan anda?

Sebenarnya semua pilihan adalah betul. Setiap sesuatu ada kelebihan dan keistimewaan juga kekurangan-kekurang an tertentu. Mengapa saya berkata begitu? Sebabnya, ketiga-tiga binatang kecil ini disebut dalam Al-Quran malah menjadi nama surah. Semut dari Surah An-Naml, labah-labah dari Surah Al-Ankabut dan lebah dari Surah An-Nahl.
Itu menunjukkan ketiga-tiga binatang kecil ini sangat istimewa, penting lagi contoh-contoh terbaik untuk manusia. Namun, jika disuruh memilih satu sahaja dan soalan itu ditujukan kepada saya, saya akan menilai sebagaimana berikut:

Semut. Kerjanya menghimpun makanan tanpa henti. Siang malam pagi petang dia berusaha tanpa rehat. Belum pernah saya melihat seekor semut terbaring keletihan. Dia hanya diusung oleh teman-temannya apabila dia mengalami kesakitan ataupun setelah mati. Selebihnya ia akan bekerja, bekerja dan bekerja. Tahukah anda, semut boleh menghimpun makanan untuk bekalan yang amat lama sedangkan usianya tidaklah lebih lama daripada banyaknya bekalan makanan yang boleh dihimpunnya itu. Motif kehidupan semut ialah menghimpun sebanyak-banyak makanan, seolah-olah dia tidak mati dan hidup selama-lamanya. Alangkah tamaknya sang semut hingga kadangkala sanggup memikul sesuatu yang melebihi saiz badannya sendiri. Sedangkan nyata dia sendiri tidak sanggup memakan makanan itu hingga selesai.

Labah-labah. Dalam ayat 41 Surah Al-Ankabut disebut tentang sarang labah-labah sebagai tempat yang paling rapuh. Ia bukan tempat yang aman. Apa pun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabiskan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga saling memusnahkan.

Lebah. Lebah memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut, marhumnya, “Atas perintah TUHAN ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.” [An-Nahl,16: 68]. Lebah membina sarang berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Makanannya suci, bersih dan istimewa daripada serbuk sari bunga. Lebah tidak mengumpul makanan, sebaliknya menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat kepada manusia. Lebah sangat berdisiplin, mengenal pembahagiaan kerja, tidak cerewet, tidak letih melakukan kerjanya. Demi kesucian dan manfaat sarang yang dibina, segala yang tidak berguna disingkirkan. Hasilnya sarang lebah menjadi pusat pengumpulan madu. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun di samping amat berbisa juga boleh menjadi ubat. Ini dibuktikan dalam salah satu rancangan yang memaparkan kisah-kisah pelik tetapi benar terbitan Amerika Syarikat.

Jadi, apakah pilihan saya? Saya memilih ketiga-tiganya sebab ketiga-tiganya mempunyai keistimewaan- keistimewaan tertentu. Psikologinya saya ingin menjadi semut dengan alasan mahu bekerja keras tanpa memikirkan soal remeh-temeh dan politik-politik tertentu. Namun, saya tidak mahu mengambil sikap bodohnya. Tahukah anda sembut amat bodoh meskipun amat rajin.

Jika ada seekor semut terjumpa seketul gula misalnya, dia akan segera pulang memberitahu rakan-rakannya. Lalu dia akan mengikut jalan yang sama yang digunakannya sehingga seketul gula itu ditemuinya kembali. Dia dan rakan-rakan akan menggunakan laluan yang sama untuk kembali ke situ dan begitulah seterusnya hinggalah makanan itu habis. Kemudian seluruh suku sakat dan kaum kerabatnya akan mengikut laluan yang sama juga walaupun ada jalan pintas yang lebih dekat. Saya juga akan mengambil sikap labah-labah yang smart itu. Dia membina sarang dan duduk senang sepanjang masa. Konsepnya seperti bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Susah membina sarang berbaloi untuk hidup senang. Hidup memang perlu smart. Hanya orang smart akan dapat smart living melalui smart earning.

Kaedahnya seperti menanam pokok pisang; menanam sekali makan selamanya. Samalah juga seperti menulis buku; menulis sekali tapi memunggut hasilnya sepanjang masa.

Dengan mengambil sikap lebah, tentunya saya mahu menjadi seseorang yang diperlukan masyarakat dengan memberikan sebanyak-banyak jasa. Bijaknya lebah boleh membina sarang segi enam yang tepat ukurannya. Tidak pernah kita lihat indung lebah ada yang besar ada yang kecil. Ia benar-benar seperti manusia yang pandai matematik dan sains atau seperti manusia yang lebih banyak menggunakan otak kirinya.

Meskipun hebat segala segi, lebah boleh menyerang balik jika terancam. Sikap ini turut diperlukan sebab untuk membina kejayaan ada kalanya kita terpaksa bertindak untuk mengekalkan matlamat serta kedudukan daripada diganggu. Apabila umat Islam mula diperangi maka ALLAH memerintahkan Nabi s.a.w. menyerang balik. Maka hukum berperang dalam keadaan ini pun jelas.

Namun, jika soalan yang asal ditanyakan lagi dan disuruh pilih satu sahaja, apakah pilihan yang terbaik? Semut menghimpun harta, labah-labah pula ingin hidup senang atas kesusahan orang lain manakala lebah berkhidmat kepada pihak lain. Maka, pilihan yang terbaik ialah lebah, lantaran Nabi s.a.w. pernah mengibaratkan seorang Mukmin itu sebagai lebah.

“Tidak makan kecuali yang baik-baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.” Itulah lebah.

Antara syarat yang diekenakan olen Mustapha Kamal Attaturk

1. Membolehkan perempuan memakai tudung dengan syarat pakai skirt.

2. Membolehkan lelaki memakai seluar panjang dengan syarat pakai tali leher dan topi(sesuai dengan kehendak barat).

3. Menyuruh wanita dan lelaki menari di khalayak ramai. Beliau sendiri pernah menari dengan seorang wanita di satu parti umum yang pertama di Ankara.

4. Beliau pernah menegaskan bahawa “negara tidak akan maju kalau rakyatnya tidak cenderung kepada pakaian moden.”

5. Menggalakkan minum arak secara terbuka.

6. Mengarahkan Al-Quran dicetak dalam bahasa Turki.

7. Menukar azan ke dalam bahasa Turki. Bahasa Turki sendiri diubah dengan membuang unsur-unsur Arab dan Parsi.

8. Mengambil arkitek- arkitek dari luar negara untuk memodenkan Turki. Hakikatnya mereka diarah mengukir patung-patung dan tugu-tugunya di seluruh bandar Turki.

9. Satu ucapan beliau di bandar Belikesir di mana beliau dengan terang-terangannya mengatakan bahawa agama harus dipisahkan dengan urusan harian dan perlu dihapuskan untuk kemajuan.

10. Agama Islam juga di buang sebagai Agama Rasmi negara.

11. Menyerang Islam secara terbuka dan terang-terangan.

12. Menggubal undang-undang perkahwinan berdaftar berdasarkan undang-undang barat.

13. Menukar Masjid Ayasophia kepada muzium, ada sesetengah masjid dijadikan gereja.

14. Menutup masjid serta melarang dari bersembahyang berjemaah.

15. Menghapuskan Kementerian Wakaf dan membiarkan anak-anak yatim dan fakir miskin.

16. Membatalkan undang-undang waris, faraid secara islam.

17. Menghapus penggunaan kalendar Islam dan menukarkan huruf Arab kepada huruf Latin.

18. Mengganggap dirinya tuhan sama seperti firaun. Berlaku peristiwa apabila salah seorang askarnya ditanya “siapa tuhan dan di mana tuhan > tinggal?” oleh kerana takut, askar tersebut menjawab ‘Kamal Atartuk adalah tuhan” beliau tersenyum dan bangga dengan jawapan yang diberikan oleh askar itu.

Kematian Kamal Atartuk Yang Menyeksakan



Di saat kematiannya, Allah telah datangkan beberapa penyakit kepada beliau sehingga beliau rasa terseksa dan tak dapat menanggung seksaan dan azab yang Allah berikan di dunia.

Antaranya ialah :

1. Didatangkan penyakit kulit hingga ke kaki dimana beliau merasa gatal-gatal seluruh badan.

2. Sakit jantung.

3. Penyakit darah tinggi.

4. Panas sepanjang masa, tidak pernah merasa sejuk sehingga terpaksa diarahkan kepada bomba untuk menyiram rumahnya 24 jam. Pembantu-pembantunya juga diarahkan untuk meletak ketulan-ketulan ais di dalam selimut untuk menyejukkan beliau.

Maha suci Allah, buat macam mana pun rasa panas tak hilang-hilang. Oleh kerana tidak tahan dengan kepanasan yang ditanggung, beliau menjerit sehingga seluruh istana mendengar jeritan itu. Oleh kerana tidak tahan mendengar jeritan, mereka-mereka yang bertanggung jawab telah menghantar beliau ke tengah lautan dan diletakkan dalam bot dengan harapan beliau akan merasa sejuk.

Allah itu Maha Besar, panasnya tak jugak hilang! Pada 26 september 1938, beliau pengsan selama 48 jam disebabkan terlalu panas dan sedar selepas itu tetapi beliau hilang ingatan.

Pada 9 November 1938, beliau pengsan sekali lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia. Sewaktu beliau meninggal, tidak seorang pun yang memandi, mengkafan dan menyembahyangkan mayat beliau.

Mayatnya diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuan beliau datang meminta ulama-ulama Turki memandikan, mengkafankan dan menyembahyangkannya. Tidak cukup dari itu, Allah tunjukkan lagi balasan azab ketika mayatnya di bawa ke tanah perkuburan. Bila mayatnya hendak ditanam, tanah tidak menerimanya (tak dapat nak bayangkan bagaimana tanah tidak menerimanya).

Disebabkan putus asa, mayatnya diawetkan sekali lagi dan dimasukkan ke dalam muzium yang diberi nama EtnaGrafi (kalau tak silap dengar) selama 15 tahun sehingga tahun 1953). Selepas 15 tahun mayatnya hendak ditanam semula, tapi Allah Maha Agung, bumi sekali lagi tak menerimanya. Habis ikhtiar, mayatnya dibawa pula ke satu bukit ditanam dalam satu binaan marmar beratnya 44 tan. Mayatnya ditanam di celah-celah batu marmar. Apa yang menyedihkan, ulama-ulama sezaman dengan Kamal Atartuk telah mengatakan bahawa “jangan kata bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak menerima Kamal Atartuk!”

Muhasabahlah diri sendiri (yakni diri saya) sebelum muhasabah diri orang lain. Apa yang baik dan benar itu datangnya dari Allah swt. Apa yang salah dan silap itu adalah dari kelemahan manusia itu sendiri


Credit


 

Original Blogger Template | Modified by Blogger Whore | Distributed by eBlog Templates